Dahaga batin sang bos wanita

2146 views
 cerita sex

cerita sex

Nama Gue Andin (29) seorang wanita yang masih berkarir lebih tepatnya sedang bekerja, ini didasarkan karena kebosanan gue yang terjadi dirumah karena hampir tak bisa melakukan apa-apa hanya duduk dan menjaga anaku saja yang kini juga sudah memasuki usia 5 tahun yang sekarang berada terpisah dengan kami karena mengikuti kakek neneknya yang juga kesepian. Yah itu juga karena memang nggak ada waktu buat kami orang tuanya untuk menjaga atau mendidiknya. Yah suami gue adalah seorang penerbang yang hanya beberapa hari saja singgah pulang kerumah karena memiliki kontrak selama 10 tahun dengan sebuah perusahaan penerbangan. Kami memiliki rencana yang tinggi kedepannya karena suami gue berencana akan pensiun setelah 10 tahun masa kontraknya dan hanya akan mengambil pekerjaan kecil untuk beberapa private plan, untuk itu kami harus gencar mencari duit dan membangun usaha agar tak sampai kehabisan dui. yah dengan gue juga membantunya, keahlian gue ini memang banyak diincar karena mampu membantu perusahaan-perusahaan besar salah satunya adalah perusahaan besar yang ada di indonesia, dimana sang pemilik perusahaan adalah teman baik keluaga kami yang pastinya lebih percaya pada kami, owh yah gue sendiri menjalankan perusahaan sendiri yang turut membantu beberapa perusahaan lainnya bermula dari perusahaan teman keluarga kami ini. Yah gue membentuk tim Analisis ekonomi yang bertindak sebagai second opinion untuk membantu perusahaan tak salah dalam mengambil tindakan. Yah cukup cuap-cuapnya tentang kehidupan gue, nah sebenarnya ini merupakan intro yang menjadi awal bermula kisah ini, yah seperti yang pembaca liat dalam pembahasan barusan hampir tak ada waktu bagi gue dan mungkin sedikit yang gue habiskan untuk bersama suami, meskipun telah memiliki anak namun ada hasrat yang tak bisa gue pungkiri untuk batin ini dipuaskan. Gue bukan cewek nakal lainnya atau cewek gampangan yang dengan mudah mencari pasangan pengganti ketika sang partner sedang tak berada ditempatnya, maka itu selalu gue tahan dahaga batin ini yang pasti loe tahu sangat menyiksa. untuk itu gue sering tampil seksi dan sedikit menonjolkan fisik gue sebagai cara untuk memuaskan dahaga gue, hanya saja itu berlangsung sementara, yah jujur gue senang dipandang orang dengan balutan pakaian seksi sehingga membuat gue tambil bebas.

Sedikit tentang fisik gue yah, bisa dibilang gue ini termasuk orang yang berubah secara fisik, dulu gue ini terlihat tinggi dan begitu langsing (kurus atau apalah itu) namun setelah menikah dan mempunyai anak tinggi gue yang dulunya 165cm masih tetap segitu tapi dalam pandangan gue berubah karena mulai badan gue berisi namun tak sampai terlalu gemuk yah kalau di bilang montoklah, dada gue atau toket gue yang dulunya standar aja, entah mengapa setelah menyusui selama hampir 1 tahun bertambah ukurannya tak sampai disitu bahkan pinggul gue juga seperti bertambah lebar dengan bokong yang ikut melebar dan membesar, banyak teman gue mengira gue mengoprasi bagian tubuh gue hingga tampak montok seperti sekarang namun seperti yang gue ketahui itu terjadi dengan sendirinya. Fisik gue yang seperti ini menjadi kebagaian tersendiri buat gue juga karena suami gue sering memuji perubahan fisik gue ini ia tak mengira gue bakalan seseksi sekarang, karena itulah gue sering merawat bagian tubuh gue yang walaupun jarang terjamah tapi tetap gue rawat.oke cukup tentang gue sekarang kita langsung saja menyimak Isi cerita ini.

 

 

Yah seperti yang gue bilang tadi gue adalah pemilik perusahaan analisis ini dan secara otomatis  memiliki bawahan memang perusahaan ini baru terbentuk 3 tahun yang lalu tapi karena reputasinya yang langsung menangani anak perusahaan perusahaan besar dan akhirnya di pakai untuk menganalisis perusahaan induknya maka mulai banyak berdatangan klien-klien baru dan bertambah pula pekerjaan kami, sehingga kami membutuhkan banyak kru, akhirnya gue membuka lowongan untuk beberapa posisi dari awalanya hanya 20an orang saja perusahaan analisis gue bertambah menjadi 2 kali lipatnya dan kini berjumlah 50 orang. Akhirnya kami dengan dana yang ada berpindah kantor ketempat yang lebih luas dan megah kantor guepun semakin besar dan dikenal. Yah dari banyaknya orang baru tersebut ada seorang pria yang gue liat sering curi-curi pandang ke gue kalau dulunya kami ber20an memulai perusahaan dan saling mengenal satu sama lain nah dengan sistem baru ini membuat gue tak lagi turun lapangan untuk berinteraksi, gue lebih banyak duduk menandatangani kemudian mengutus beberapa orang untuk face to face dengan klien yang dulunya gue lakukan sendiri. Pria tersebut belakangan gue tahu namanya Edo (23) pria muda yang cukup tampan berposisi sebagai Ahli IT kami, ia sering pulang larut malam karena memang pekerjaannya mengharuskannya seperti itu. Seperti yang gue bilang tadi gue sebenarnya tak marah kalau diliatin atau di nikmati visualnya karena gue juga senang dengan hal tersebut. Hingga akhirnya gue kena batunya sendiri..

Berawal dari hari yang tak terlalu padat bagi gue sehingga gue banyak menghabiskan waktu gue di luar bersama teman-teman gue. Namun gue terkejut ketika melihat hp gue yang tadinya di sillent terdapat berbagai macam panggilan dan pesan dari asisten gue yang mencari gue kemana-mana, yah memang asisten gue ini suka lebai namun itulah yang menyelamatkan gue dari hal-hal kecil. Ternyata ada dokumen yang seharusnya gue tanda-tangani sendiri dan harusnya hari ini sudah masuk untuk klien kami namun karena gue yang susah di hubungi akhirnya asisten gue memutar oraknya mencari alasan agar gue besok bisa menyerahkan dokumen penting itu. Dengan tergesa-gesa namun sedikit sempoyongan karena memang gue sedikit meminum alkohol saat bersenang-senang dengan teman gue, menuju kantor gue. Disana memang belum sepenuhnya tutup karena akan ditutup setelah pukul 11 malam oleh satpam yang bertugas sedangkan waktu itu baru pukul 7 lewat 15 malam karena biasanya ada karyawan yang lembur. Sesampainya disana gue langsung menuju ruangan gue namun ditengah jalan gue berpapasan dengan Edo yang menyapa gue dan tak lupa ia juga mata mesumnya menjelajahi tubuh gue. Gue balas sapaannya dengan lembut dan sedikit tergesa-gesa, namun yang terjadi gue malah menabrak meja didepan gue karena memang pengaruh alkohol membuat gue sedikit pusing dan penglihatan lumayan kabur tapi masih sadar dan bisa berjalan. Melihat gue yang tersungkur Edo langsung berlari menghampiri gue dan membantu gue bangkit.

‘Ibu nggak apa-apa’ tanyanya.
‘mhh.. sedikit pusing tapi nggak apa-apa kok’
‘beneran bu, mau saya bantu.. saya liat ibu terburu-buru’
‘mhh.. yah boleh, siapa nama kamu ?’ kata gue yang mau menerima tawaran bantuannya.
‘Edo bu’
‘owwhh maaf yah Edo saya nggak hafal semua karyawan karena memang sekarang sudah nggak terjun langsung dilapangan’ owh yah gue menerima tawaran Edo karena memang sudah terbiasa gue dengan sistem saling membantu baik dari atas kebawah atau sebaliknya.
‘ngak apa2 bu.. mari saya bantu’ kata Edo sambil berjalan duluan didepan gue/

Gue menunjukan tujuan gue menuju ruangan gue yang memang tersendiri serta dilindungi oleh tembok pemisah, disana Edo membantu gue mencari beberapa berkas yang harus gue tanda tangani, dan menunjukan beberapa lembar kertas yang gue lewatin yang seharusnya gue tanda tangani. Posisi edo berada tepat disamping gue kala itu yang sedang duduk diatas kursi gue dan menghadap ke meja beralaskan dokumen tersebut, kala itu gue memakai rok hitam yang cukup pendek dan sebuah baju hitam berleher rendah dibalut blazer putih, membuat kontras kulit gue dan baju yang gue kenakan begitu terlihat. Dan secara diam-diam lagi gue melihat edo menikmati tontonan didepannyanya yaitu belahan dada gue dan paha gue yang bisa ia nikmati lebih dekat dari sebelumnya. Yah karena waktu itu gue lagi fokus ke dokumen jadi gue nggak terlalu menghiraukannya hanya saja fokus Edo itu adalah diri gue bukannya dokumen didepannya. Yah sehabis dokumen yang gue tanda tangani sudah habis semuanya, gue akhirnya memutuskan untuk pulang sambil membawa dokumen tersebut agar esok paginya bisa gue serahkan sendiri ke klien kami. Yah memang gue kala itu terburu-buru membereskan semua dokumen gue dan dari posisi duduk gue mencoba untuk bangkit berdiri dan berjalan namun yang terjadi adalah gue merasa seperti berada di sebuah putaran membuat gue tak bisa menjaga keseimbangan sehingga harus menahan diri gue dengan berpegangan di meja dan secara reflek lagi Edo berusaha menahan tubuh gue, kali ini ia lebih dekat kearah gue karena menahan punggung gue.

‘ibu nggak apa2’
‘mhh.. yahh ini tiba-tiba pusing lagi’ kata gue
‘mhh ibu minum yah’ kata edo yang mengingatkan gue kalau sebenarnya ini karena gue tadi kebanyakan minum/
‘yahh, tadi lagi ngumpul sama teman-teman’

Gue kembali mencoba berjalan namun kepala gue serasa berputar membuat pijakan gue salah dan akhirnya harus jatuh tapi langsung ditahan oleh Edo dalam posisi memeluk gue, yah gue nggak tahu kenapa bisa separah ini padahal tadi ketika gue berjalan dan duduk kepala gue biasa-biasa aja tapi sekarang seperti berada diroda putar. Kondisi gue berubah dari pusing langsung lemas ketika Edo mengajak gue berjalan menuju sofa didepan kami. Gue berusaha melangkah sambil dibantu Edo. Sesampainya kami di sofa tersebut Edo membantu gue untuk Duduk tapi gue merasakan hentakan keras ketika ia melepas tubuh gue. Penglihatan gue masih jelas ketika dihadapan gue Edo langsung menindih tubuh gue, kedua kakinya berlutut sambil berat tubuhnya menekan gue, kontan gue kaget dan berusaha meronta serta berteriak namun dia lebih cepat dari gue berat badannya membuat gue tak bisa berbuat apa-apa sedangkan teriakan gue langsung ia redam dengan tangannya, gue berusaha mendorongnya tapi tangan ini serasa tak kuat dan lemas, beberapa saat gue meronta mengunakan sisa tenaga gue namun yang ada adalah kesia-siaany karena dia lebih kuat. Gue yang sudah lemas bisa dirasakan Edo karena nggak adalagi hentakan serta rontaan gue. Dengan cepatnya Edo membalikan posisi gue yang awalnya kami saling berhadapan sekarang Edo membalikan tubuh gue menghadap kearah sofa dengan kedua lutut gue sebagai penyangganya sedangkan tubuh gue bertumpu pada sandaran kursi, posisi ini membuat gue seperti sedang menungging namun dengan tubuh tegak.. di depan gue terdapat jendela kaca yang tak tertutup oleh horden sehingga dapat gue melihat kearah luar kondisi jalanan yang lumayan gelap, akibat itu gue bisa melihat refleksi kaca didepan gue menunjukan bagaimana Edo mendekap gue dari belakang, ia membuka blazer gue dari bagian depan gue namun tak sampai meliloskan lengan gue, ia menarik blazer tersebut tepat dibelakang bokong gue membuat kedua tangan gue juga berpindah tempat kearah belakang, merasakan sisi dalam kaki Edo yang mengapit tubuh serta tangan gue.

Dengan posisi ini otomatis gue ngak punya kendali lagi dengan tubuh gue yang bisa gue kendalikan hanyalah mata dan mulut gue.

‘lepasin gue’ kata gue yang meminta dia untuk melepaskan cengkramannya.
‘maaf tapi ibu sudah buat saya horny’
‘saya mohon D lepasin saya, apa yang kamu minta saya turutin’
‘yang saya minta itu menikmati tubuh ini’ kata Edo sambil kedua tangannya memeluk gue dan tepat meremas kedua toekt gue yang membusung.
‘jangan… kamu mau saya pecat dan laporin’ ancam gue
‘haaa.. silahkan saja tapi akan tahu akibatnya’ katanya sambil tersenyum mesum karena kini sudah memegang kendali tubuh gue.

Yah walaupun gue sempat hilang keseimbangan karena sensor motorik yang dipengaruhi oleh alkohol namun gue nggak kehilangan kecerdasan gue dan mengerti perkataan Edo, apalagi banyak korban pemerkosaan yang meninggal karena langsung dibunuh oleh sang pemerkosa. Gue kini terdiam tapi masih meminta ia melepaskan gue, bukannya melepaskan gue malah ia melucuti pakaian gue tangannya menelusup masuk ke dalam baju gue namun ia mengalami hambatan ketika bra yang gue pakai terlalu ketat untuk tangannya masuk, tak habis akan ia mencari pengait yang dikiranya berada di punggung gue namun setelah beberapa lama berusaha ia tak menemukannya dan menanyakan ke gue, beberapa pertanyaan ia lontarkan baru gue jawab kalau pengaitnya didepan branya, dan akhirnya ia berhasil melepas pengaitnya karena merasa masih ketat dengan baju gue akhirnya ia membuka baju hitam tersebut sebatas dada gue dimana kedua toket gue sudah terbebas, mungkin karena tangan gue yang masih dibungkus blazer sehingga tak bisa mencopot semuanya. Dari refleksi kaca didepan gue lihat kedua tangannya langsung meremas toket gue wajahnya ia dekatkan ketelinga gue sehingga hembusan nafasnya bisa gue rasakan.

Tubuh gue sedikit bergetar ketika jemarinya memainkan puting gue dengan memelintirnya, kepala gue yang terasa berat perlahan-perlahan mulai terasa ringan, pikiran gue seperti melayang. Walaupun masih bersuara agar ia melepaskan gue. Entah mengapa apa yang dilakukan Edo tak sepenuhnya membuat gue takut, walaupun rasa takut terus terlintas dibenak gue, rangsangannya mampu membangkitkan hasrat gue yang sudah lama tak disentuh lelaki, bibir gue berusaha menahan desahan yang gue keluarkan ketika dirangsang suami gue dengan terus berkata-kata untuk melepaskan gue, tapi tubuh gue tak bisa memungkiri kalau gue terangsang dengan apa yang Edo lakukan toket gue yang tadinya kenyal sekarang mulai mengeras walaupun tak terlalu keras tapi bisa dirasakan bedanya dan yang paling terasa adalah puting gue yang sepertinya sudah disadari Edo kalau telah mengeras.

‘tolong Do jangan lepasin saya’ rintih permohonan gue yang dijawab Edo.
‘Bu, saya tahu ibu juga terangsang kan, buktinya toket ibu mulai mengeras’ kata Edo yang membuat gue tak bisa menjawabnya hanya dengan perkataan yang sama
‘tolong Do lepasin saya’
‘nah sekarang lebih baik Ibu diam saja, kalau ibu terus merintih seperti ini ibu takkan bisa menikmatinya malah yang ada ibu akan tersiksa.. lebih baik diam dan ikuti saja jangan melawan karena ibu pasti yang lebih banyak merasakan akibatnya’ perkataan Edo ini membuat gue terdiam sejenak, namun masih meminta ia melepaskan gue.

‘yah saya tahu suami ibu jarang dan pasti sudah lama tak dijamah, kini saatnya bertindak semestinya’ kata Edo kini membuat gue terdiam.

Ditambah lagi ia merangsang gue dengan menciumi pundak gue dan sekitaran leher gue membuat gue kembali terangsang tentu saja juga jemari dan telapaknya meremas serta memelintir toket gue, rangsangannya bertambah ketika pinggulnya yang mendekap gue ia mainkan dibokong gue, terasa gundukan diselangkangannya mengosok dan mengesek bokong gue membuat gesekan pelan yang terjadi di sekitaran vagina gue. Ini semakin menambah rangsangan ketubuh gue. Dengan terus berusaha gue menahan rangasangannya walaupun terlihat wajah yang memerah dan bibir yang tertahan agar desahan tak keluar dari mulut gue, melihat ekspresi gue yang menahan rangsangan Edo semakin gencar membuat gue kembali harus menahan rangasangannya.kepalanya kini berpindah kesisi kanan gue kemudian terasa sebuah jilatan ditoket gue dan akhirnya gue merasakan hisapan diputing gue. Kontan ini membuat gue sedikit memekik, wajah gue langsung gue arahkan kearah sebaliknyam sementara Edo terus menyusu ditoket gue, iat terlihat begitu lihai memainkan mainan didepannya, tak berapa lama ia pindah kesisi sebaliknya membuat gue memalingkan kembali wajah gue agar ia tak melihat ekspresi gue yang menahan rangsangannya. Setelah puas dengan rangsangannya ia kembali mendekap gue dari belakang dengan memeluk gue dan menempelkan wajahnya di wajah gue. Gue sedikit bernafas lega karena berhasil menahan rintihan gue.

‘ibu sungguh cantik dan seksi, sayang wanita seperti ini ditinggalin’ kata Edo yang langsung membuat gue terperenjat kala bibirnya menyentuh bibir gue, gue sempat memalingkan wajah gue namun kembali ditangkapnya bahkan kini dipengannya kepala gue dan diarahkan ke wajahnya, dia berusaha mengemut bibir gue namun masih gue tahan dengan terus mendekapnya akhirnya karena merasa tak bisa membuka mulut dan bibir gue yang gue lipat kedalam ia akhirnya menjilati seluruh wajah gue dengan lidahnya dan liurnya yang membasahi hampir seluruh wajah.

‘mhh kira-kira udah basah belum yah’ kata Edo yang membuat gue terpernjat karena tangannya kini langsung menelusup masuk kedalam rok gue mengangkatnya dari depan, tangannya begitu leluasa masuk dan langsung menuju celana dalam gue yang ia susupi, entah sejak kapan kaki gue sudah berlutut menganggkang padahal gue ingat betul awalnya gue rapatkan. Sontak jari Edo langsung menyentuh vagina gue, membuat gue sekali lagi merinding dan bergetar.

‘mhh shaved pussy dan memang benar ternyata udah basah gini’

Jemari edo bermain mengosok memek gue yang tak berbulu itu, jarinya langsung menyentuh klitoris gue membuat gue yang tadinya dengan susah payah menahan desahan suara gue kini akhirnya gagal dan melepaskan desahan-desahan erotis.

‘ssstt ahhhh ssstttt’ desis gue dikala memek gue dipermainkannya.

Nah gitu dong jangan ditahan, terusin aja bu, katanya dengan senyum kemenangan, desahan gue bertambah liar dikala jarinya memasuki memek gue dan dimainkannya didalam sambil terus jempolnya merangsang klitoris gue. Tanpa sadar dan entah sejak kapan suara erangan erotis gue yang keluar tadinya berubah menjadi suara humpatan.

‘mhhhhmhhhmhhpppt’ yah entah sejak kapan edo sudah berpangutan dengan gue. Gue akui serangan Edo membuat gue tak berdaya bahkan gue yang awalnya tak senang bahkan takut kini mulai menikmati permainannya. Gue menikmati hisapan serta permainan lidah Edo dan ransangannya di toket gue yang terus ia pelintir putingnya serta memek gue yang ia terus mainkan. Suasana tenang serta bunyi cipokan Edo mewarnai aktifitas pemerkosaan yang gue nikmati ini, tak terasa memek gue mulai berkontraksi terasa seperti ada yang mengalir melalui jaringan tubuh gue, sinyal tersebut terkirim melalui kulit gue menuju otak gue kemudian di proses secara cepat menuju organ dalam gue membuat gue hampir mengalami orgasme pertama gue andai saja Edo tak menarik tangannya dari memek gue.

‘hahhh… hahhh.. haahh..’ nafas gue tersengal seperti habis berlari berkilo meter.
‘udah mau keluar aja bu.. mhh kalau ibu diam seperti ini dan janji nggak bakalan berontak saya akan melanjutkannya dan memberikan ibu apa yang selama ini ibu idam-idamkan, gimana bu ’ tanya edo.

Gue masih terdiam saja namun Edo tak menyianyiakan kesempatan ini, ia seperti berasumsi kalau gue menyetujui tawarannya, ia kemudian membalikan tubuh gue kembali sehingga kinni gue terduduk berhadapan dengan lelaki yang sedari tadi menggerayangi tubuh gue, ia melepaskan blaser gue yang menjerat tangan gue. Gue sedikit malu juga ketika dilihat edo dalam keadaan setengah talanjang, tangan gue yang reflek menyilang menghalangi pandangannya ketoket gue disingkirkannya.

‘loh kok dituutpin kan sayang’ kata edo sambil kembali ia membuka tangan gue ia berlutut tepat didepan gue ketika wajahnya mendekat hingga bibirnya kembali menelan sebelah puting toket gue dan dengan hisapan kecil kembali ia memainkan toket gue, aktifitas edo kembali meningkat setelah ia berusaha membuka baju gue yang dibantu dengan gue dan membuat gue bertelanjang dada. Puas dengan toket gue ia lalu turun kedua tangannya terfokuskan di kaki gue matanya fokus pada apa yang ada didalamnya, entah lelah, capek atau terhipnotis gue mengikuti aja apa perlakuan Edo ke gue, perlahan tangannya menelusup masuk kedalam rok gue menarik keluar dalaman gue hingga lolos dari tubuh gue, kaki gue dilebarkannya hingga kini gue dalam posisi mengangkang. Perlahan rok gue dinaikannya beserta kaki gue yang masih menggunakan sepatu ber hak tinggi diletakannyadiatas sofa empuk tersebut, hingga tubuh gue seperti huruf M dengan kaki yang lebih melebar. Edo terlihat tersenyum sedikit sambil memainkan jeamrinya kembali digundukan memek gue. gue memalingkan wajah gue saat matanya menangkap tatapn penuh harap gue saat perlahan wajahnya mendekati memek gue.

‘ssshh ahhhh’ desahan gue saat lidahnya dijulurkan menyapu bersih memek gue secara vertikal. Edo mulai menjilati memek gue, tangan gue langsung menyergap kepalanya meramas ranbutnya namun bukan untuk menjauhkannya tetapi menekannya agar terus merangsang memek gue karena gue meraskan sensasi nikmat yang luat biasa.

‘mhhh ahhh sstt ahhh yahhhh’ gue sudah meracau sejadinya ketika edo menambah jemarinya bermain dimemek gue. gue sudah melupakan kalau sebenarnya gue ini sedang diperkosa karena sensasinya begitu nikmat, emmang gue sering melakukan ini dengan suami gue ketika kami berhubungan seks namun bersama edo menjadi berbeda ia begitu pintar memainkan permainannya. Selagi menikmati rangsangan Edo gue yang sudah tak malu algi mendesah kembali dibuatnya kecewa karena ia menarik kembali wajahnya serta jemarinya dari memek gue.

Dengan tenangnya Edo menghampiri gue yang memasang wajah penuh nafsu atau Horny sekaligus kecewa karena aktifitas nikmat itu ia hentikan.

‘hehe gimana bu enak kan, biarkan Edo kecil yang menuntaskannya’ kata Edo sambil membuka kancing dan resleting celananya ia kemudian dengan cepat membuka sepatunya kemudian membuka celananya meloloskan dari kakinya, tapi ia menyisakan celana boxer ketatnya yang terlihat memiliki bukut tepat ditengah selangkangannya. Edo menarik tangan gue menuju celana dalamnya ia membuka sedikit elah di boxernya lalu menuntun tangan gue masuk kedalamnya, bak kerbau dicucuk hidungnya gue mengikuti apa yang edo perlakukan. Tangan gue kini merasakan benda keras yang sudah dapat gue tebak itu apa, tapi terasa begitu aneh ditangan gue karena tak pernah gue memgang benda sebesar itu, gue nggak sempat melihat bentuknya karena Edo sudah langsung menciumi gue, kini gue membalas ciuman edo dengan dahsyatnya bahkan gue berani menggenggam dan memainkan kontol Edo yang telah terbebas karena celana boksernya telah dibukanya, memang sudah lama gue nggak memegang kontol asli milik suami gue yang sudah 2 bulan tak kunjung menampakan diri, ternyata tak hanya gede kontol edo yang tak muat digenggam tangan mungil gue ini juga memiliki ukuran panjang yang melebihi ekspetasi gue. Edo kemudian melepas ciumannya ia tersenyum penuh kemenangan ia berbisik ketelinga gue untuk membasahi kontolnya, masih ragu namun gue tak menolak ketika edo menuntun wajah gue menuju selangkangannya yang kini dapat gue liat kontolnya yang 2 kali lebih besar dari punya suami gue. dan

‘slurpp..slurpp..slurppp’ gue mulai menyepong kontol Edo yang terlihat legit dan penuh dengan urat2 perkasa.

Baca Juga : Cerita Hot : Tante Diperkosa Keponakan

‘ssshh ahhh enak bu… mhh pintar yahhh.. ngooralnya’ racau Edo merasakan sepongan gue yang memang menyukai menjilati kontol suami gue setelah awalnya merasa jijik namun pertama kali mencoba dan kedua kali akhirnya gue menjadi hobi menyepong kontol suami gue. owh yah sekedar informasi memang suami gue bukanlah lelaki pertama yang memerawani gue adalah mantan pacar gue yang melakukannya namun itu tanpa aksi forplay seperti sekarang ini langsung main tancap aja, dan suami gue adalah orang kedua yang berarti Edo adalah orang ketika yang menikmati tubuh gue. edo duduk sambil menyibakan rambut panjang gue yang terkadang menghalangi sepongan gue dikontolnya, kontolnya gue jelajahi sambil mengocok secara cepat dan perlahan dengan tempo yang tak beraturan namun dapat membuat edo terlihat merem melek.

‘udah bu jangan diterusin nanti keluar’ kata edo menghentikan aksi gue.
‘mari kita selesaikan bu’ kata edo mengajak gue untuk menyelesaikan apa yang ia mulai. Gue hanay mengangguk tanda setuju. Kembali edo membawa gue menuju meja gue, waktu itu gue masih sempoyongan karena masih terpengaruh alkohol. Ia lalu mendudukan gue diatas meja kerja gue yang luas itu sambil ia mengangkat kaki gue. didekatkannya kontolnya menuju memek gue dimainkannya disana naik turun beberapa kali hingga membuat gue semakin bernafsu dan tak sabaran beberapa kali gue mencoba mendorong pinggul gue agar benda tersebut menyentuh lebih dalam lagi namun selalu ditarik Edo.

‘mmhh.. Do ayo dimasukin’ kata gue yang berbicara positif ke Edo karena selama ini adalah penolakan.
‘ibu aja yang masukin takut dituntut melakukan pemerkosaan dan pemaksaan’ katanya sambil tersenyum sambil menyodorkan kontolnya.

Gue lalu menggenggam kontolnya itu kemudian dengan cara gue sendiri berusaha memasukannya kedalam memek gue kontol edo yang sudah basah dengan liur gue ditambah memekk gue yang sedari tadi dilumasi membuat proses masuknya kontol Edo tak terhalangi lagi dan.

‘blesssss’ masuklah kontol Edo tertelah memek gue hingga kepangkalnya. Pasti kalian berpikir ini karena gue yang sudah punya anak sehingga kontol Edo yang seharusnya besar menurut ukuran gue dapat mudah masuk. Kalian salah karena gue waktu itu mengalami oprasi sesar karena tulang pinggul gue belum cukup besar untuk melewatkan anak gue waktu itu, lah trus bagaimana bisa ? yah pasti wanita kespian lain tahu kalau ada alat lain selain kontol yang bisa dipakai yah itu dia tiruan kontol alias dildo yang gue sering gunakanlah yang menyebabkan kontol Edo bisa leluasa masuk.

‘ahhh ‘ kami berdua sama-sama mengerang ketika edo mulai mengenjot gue, kontolnya dengan tempo beraturan mulai masuk keluar memek gue.

‘ahh ahh ahh ahh sss oeee yesss’ erang gue diselingi desahan edo.
‘mhh gimana bu rasanya diperkosa enakan’
‘mhh enak Do lanjutin ahh sssttt yeahhh’
‘plak..plak..plakk’ bunyi peraduan selangkangan kami

Edo semakin gencar mengenjot gue hingga akhirnya ia membuat gue melenguh panjang.

‘uhhhhhhhhhhh…….’ lenguhan gue menandakan orgasme pertama gue yang membuat edo sampai harus menutup mulut gue karen kerasnya lenguhan gue. gue memeluk erat Edo dengan kaki yang melingkari pinggulnya hingga akhirnya gue melemas, ia memberikan sedikit waktu bagi gue untuk sejenak beristrahat. Kalau tadi kami saling berhadapan kini Edo merubah posisi kami ia membailkan gue dan dari belakang ia mulai lagi menyodokan kontolnya keluar masuk memek gue. kembali terdengar bunyi tamparan khas antara pangkal paha Edo dan bokong gue.

‘plak..plakkk.plakkk’
‘mhhh bokokngnya nggak kalah kenyal ‘ kata edo sambil meremas-remas bokong besar gue.

Gerakan masuk keluar kontol Edo di memek gue membuat sensifitas memek gue kembali lagi sehingga libido gue kembali naik.

‘ahh.ahha…ahh..ahh.. ahh.. ahh.’ Desah gue tiap kali menerima hentakan kontol Edo. Gerakan Edo semakin kencang saja membuat gue sampai terdorong kedepan dan sedikit merubah posisi meja, gerakan Edo ini diakhiri dengan hentakan kuat dimemek gue yang membuat kontolnya masuk secara utuh dalam memek gue, badan Edo seperti menegang ia menekan tubuh gue sehingga gue secara teknis terjatuh keatas meja dengan kaki yang masih berdiri tegak sedikit terbuka memberikan jalan bagi kontol Edo yang kini terasa membesar.

‘ohhhhh.’ Lenguhan panjang Edo dikala kontolnya berkontraksi.
‘crottt…crottt…crottt..’ terasa kontolnya menembakan cairan khas lelaki dan memenuhi memek gue. Edo lalu mencabut kontolnya setelah merasa cukup.
‘maaf bu keluarin didalam habisnya enak banget sih nggak sempat nyabut’ kata Edo sambil ia mencari tisu untuk melap cairan sisa di kontolnya, tapi gue tahan tangannya ketika ia ingin membersihkan sisa pertempuran kami. Gue yang tadinya terbaring kini mendorong Edo dikursinya kemudian gue jongkok lalu membersihkan sisa peju di kontol edo dengan menyepong kontolnya.

Gue membersihkan kontolnya dengan tujuan untuk membangkitkan kembali agar melanjutkan pertempuran kami, tapi edo yang sudah merasa kembali terangsang dengan sepongan gue menghentikan pekerjaan gue,kembali ia membuat gue kecewa, namun kali ini sungguh beralasan ia menghentikan aktifitas gue karena ia takut satpam akan memergoki kami yang sedang ML di kantor tersebut dan bisa memnimbulkan kekacauan.

‘Do kamu harus tanggung jawab, kamu sudah memulainya dan kamu harus mengakhirinya’
‘heheh tenang aja bu, gimana bu diperkosa sama saya enakkan’ kata Edo yang menggoda gue karena kini gue malah menikmati permainannya.
‘dasar kamu’ kata gue sedkit membinggungkan antar ya atau tidak namun ia sudah tahu pasti kalau gue menikmatinya.

Lalu kemudian kami kembali berpakaian setelah itu memberaskan sisa permainan kami, lalu kami secara terpisah menuju parkiran karena memang tadi gue nggak membawa mobil karena rasa pusing yang gue alami sehingga mobil gue tinggali di tempat tongkrongan kami, akhirnya gue di antar pulang menuju rumah dengan mobil Edo, gue kini sudah tak canggung laki berbicara dengan Edo karena rasa malu gue sudah hilang menjadi rasa nafsu ke Edo apalagi Edo orangnya tampan serta memperlakukan gue sebagai wanita yang perlu kenikmatan bukan wanita yang harus dinikmati. Gue dan Edo menuju rumah gue, disana kami memulai pertempuran lagi hingga DAHAGA BATIN gue terpenuhi, entah berapa kali Ronde kami habiskan malam itu tapi yang jelas gue sampai nggak bisa pergi menyerahkan dokumen deal kami yang akhirnya membuat klien kami tak memakai jasa kami, begitu pula dengan Edo yang baru Subuh pulang tanpa sepengetahuan gue dan ternyata hari itupun kami sama-sama tak masuk kerja..

Incoming search terms:

Tags: #cerita 18+ #cerita bokep #cerita dewasa #cerita hot #cerita ngentot #cerita porno #Cerita sex #cerita sex terbaru